Makalah
DIVUSI INOVASI DAN DESIMINASI
OLEH :
Kelompok 1
Whencing Ali
Ilham Djasri
Wahyunita Dama
Riski Madjid
Eva Indriani
UNIVERSITAS NEGERI
GORONTALO
FAKULTAS ILMU
PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN
LUAR SEKOLAH
2015
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi ALLAH SWT, pencipta alam semesta yang masih member
kesempatan dan kekuatan sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah ini denan
semaksimal mngkin. Salawar dan salam selalu tercurahkan atas junjungan Nabi
Muhamad SAW yang menjadi teladah dalam kehidupan ini.
Tugas dalam hal ini makalah yang berjudul “Divusi Inovasi Dan Desiminasi” dapat disusun karena atas bimbingan, arahan dan
masukan dari semua pihak terutama dosen pembimbing mata kuliah ini, sehingga tak lupa kami ucapkan banyak terima kasih.
Tiada gading yang tak retak, tiada manusia yang luput dari kekhilafan. Kami
menyadari bahwa tugas dalam hal ini makalah masih sangat jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan tidak mengurangi rasa hormat penulis,
maka penulis ingin membutukan saran, kritik dan masukan dari para pembaca dan
pendengar yang sifatnya membangun agar pembuatan makalah ini selanjutnya mampu
mengurangi kesalahan-kesalahan yang penulis buat sehingga menjadikan motivasi
dalam pembuatan makalah ini.
Wassalamu Alaikum Wr.Wb.
Gorontalo, 15 Oktober 2015
Kelompok
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
i
DAFTAR
ISI
ii
Bab
I :
PENDAHULUAN
1
1.1 Latar
Belakang
1
1.2 Rumusan Masalah
1
1.3 Tujuan
2
BAB
II :
PEMBAHASAN
3
2.3 Proses
Difusi Inovasi
5
2.4 Kategori Adopter
8
2.6 Peranan dimensi waktu dalam Proses Difusi
10
BAB III :
PENUTUP
11
3.1
Kesimpulan
11
3.1 Saran
12
Daftar
pustaka
13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Munculnya Teori
Difusi Inovasi dimulai pada awal abad ke-20, tepatnya tahun 1903, ketika
seorang sosiolog Perancis, Gabriel Tarde, memperkenalkan Kurva Difusi berbentuk
S (S-shaped Diffusion Curve). Kurva ini pada dasarnya menggambarkan
bagaimana suatu inovasi diadopsi seseorang atau sekolompok orang dilihat dari
dimensi waktu. Pada kurva ini ada dua sumbu dimana sumbu yang satu
menggambarkan tingkat adopsi dan sumbu yang lainnya menggambarkan dimensi
waktu.
Pemikiran Tarde
menjadi penting karena secara sederhana bisa menggambarkan kecenderungan yang
terkait dengan proses difusi inovasi. Rogers (1983) mengatakan, Tarde’s
S-shaped diffusion curve is of current importance because “most innovations
have an S-shaped rate of adoption”. Dan sejak saat itu tingkat adopsi atau
tingkat difusi menjadi fokus kajian penting dalam penelitian-penelitian
sosiologi.
Pada tahun 1940, dua
orang sosiolog, Boyce Ryan dan Neal Gross, mempublikasikan hasil penelitian
difusi tentang jagung hibrida pada para petani di Iowa, Amerika Serikat. Hasil
penelitian ini memperbarui sekaligus menegaskan tentang difusi inovasimodel
kurva S. Salah satu kesimpulan penelitian Ryan dan Gross menyatakan bahwa “The
rate of adoption of the agricultural innovation followed an S-shaped normal
curve when plotted on a cumulative basis over time.
”Perkembangan berikutnya dari teori Difusi Inovasi terjadi pada tahun 1960,
di mana studi atau penelitian difusi mulai dikaitkan dengan berbagai topik yang
lebih kontemporer, seperti dengan bidang pemasaran, budaya, dan sebagainya. Di
sinilah muncul tokoh-tokoh teori Difusi Inovasi seperti Everett M. Rogers
dengan karya besarnya Diffusion of Innovation (1961); F. Floyd Shoemaker
yang bersama Rogers menulis Communication of Innovation: A Cross Cultural
Approach (1971) sampai Lawrence A. Brown yang menulis Innovation Diffusion: A
New Perpective (1981).
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian divusi
dan diseminasi inovasi
2.
Apa saja
elemen-elemen divusi inovasi
3.
Bagaimana proses
divusi inovasi
4.
Apa saja kategori
adopter
5. Apa Prinsip Homophily dan Heterophily
6. Bagaimana Peranan dimensi waktu dalam Proses Difusi
7.
Apa Lima Kategori Penerima inovasi
1.3 tujuan
1. untuk
mengetahui divusi dan diseminasi inovasi
2. untuk
mengetahui elemen-elemen divusi inovasi
3. untuk
mengetahui proses divusi inovasi
4. untuk
mengetahui kategori adopter
5. untuk
mengetahui Prinsip Homophily dan
Heterophily
6. untuk
mengetahui Peranan dimensi waktu dalam
Proses Difusi
7. untuk
mengetahui Lima Kategori
Penerima inovasi
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Divusi Inovasi Dan Desiminasi
a.
Pengertian Divusi Inovasi
Inovasi merupakan sebuah ide,
barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai sesuatu yang baru
bagi seseorang maupun kelompok masyarakat. Inovasi memberi sebuah solusi atau
pengetahuan baru bagi individu atau masyarakat yang mampu menerima dan
memanfaatkan dengan baik informasi (inovasi) yang sampai padanya.
Komunikasi dengan isi pesan berupa sebuah
inovasi disebut sebagai proses difusi, yaitu proses komunikasi inovasi antar
warga masyarakat (anggota system sosial), dengan menggunakan saluran tertentu
dan dalam waktu tertentu. Disini, terjadi proses saling tukar menukar informasi
(hubungan timbale balik), antar beberapa individu baik secara memusat
(konvergen) maupun memancar (divergen), yang berlangsung secara spontan. Dengan
adanya komunikasi ini akan terjadi kesamaan pendapat antar warga masyarakat
tentang inovasi. Maka, difusi juga dapat merupakan salah satu tipe komunikasi,
yaitu komunikasi yang mempunyai ciri pokok berupa pesan yang dikomunikasikan
adalah hal yang baru (inovasi).
Seorang pakar difusi yaitu Roger
(1995) mengatakan bahwa difusi adalah proses yang terjadi pada suatu waktu dan
memiliki lima tahapan yaitu tahap pengetahuan, persuasi, keputusan,
implementasi, dan konfirmasi. Salah satu tahapan penting dalam proses keputusan
inovasi adalah tahapan persuasi (pembentukan sikap), karena terjadi proses
seleksi untuk berkenan atau tidak berkenan terhadap inovasi. Sehingga muncul
suatu kesiapan (positif atau negatif) untuk berperilaku (M. Anwas, 2006:4).
Menurut Roger (Ibrahim, 1988:59), ia
membedakan antara sistem difusi sentralisasi dan system difusi desentralisasi,
yaitu :
1.
System
difusi sentralisasi, penentuan tentang berbagai hal seperti : kapan dimulainya
difusi inovasi, dengan saluran apa, siapa yang akan menilai hasilnya, dsb.
Dilakukan oleh sekelompok kecil orang tertentu atau pimpinan agen pembaharu.
2.
Dalam system
difusi desentralisasi, penentuan tersebut dilakukan oleh warga masyarakat
bekerja sama dengan beberapa orangyang telah menerima inovasi. Dan dalam
pelaksanaan system difusi desentralisasi yang ekstrim tidak perlu agen
pembaharu, warga masyarakat itu sendiri yang bertanggungjawab atas terjadinya
difusi inovasi.
b. Pengertian Diseminasi Inovasi
Diseminasi (Bahasa Inggris:
Dissemination) adalah suatu kegiatan yang ditujukan kepada kelompok target atau
individu agar mereka memperoleh informasi, timbul kesadaran, menerima, dan
akhirnya memanfaatkan informasi tersebut.
Diseminasi merupakan tindak inovasi
yang disusun dan disebarkannya berdasarkan sebuah perencanaan yang matang
dengan pandangan jauh ke depan baik melalui diskusi atau forum lainnnya yang
sengaja diprogramkan, sehingga terdapat kesepakatan untuk melaksanakan inovasi.
Diseminasi adalah proses penyebaran
inovasi yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola. Hal ini berbeda dengan
difusi yang merupakan alur komunikasi spontan.
Sehingga terjadi saling tukar informasi dan akhirnya terjadi kesamaan
pendapat antara tentang inovasi tersebut.
2.2 Elemen Difusi Inovasi
Sesuai dengan pemikiran Rogers, dalam proses difusi
inovasi terdapat 4 (empat) elemen pokok, yaitu:
1.
Inovasi
Gagasan,
tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Dalam hal ini,
kebaruan inovasi diukur secara subjektif menurut pandangan individu yang
menerimanya. Jika suatu ide dianggap baru oleh seseorang maka ia adalah inovasi
untuk orang itu. Konsep ”baru” dalam ide yang inovatif tidak harus baru sama
sekali.
2.
Saluran komunikasi
”Alat”
untuk menyampaikan pesan-pesan inovasi dari sumber kepada penerima. Dalam
memilih saluran komunikasi, sumber, paling tidak perlu memperhatikan:
a.
Tujuan
diadakannya komunikasi
b.
Karakteristik
penerima.
Jika
komunikasi dimaksudkan untuk memperkenalkan suatu inovasi kepada khalayak yang
banyak dan tersebar luas, maka saluran komunikasi yang lebih tepat, cepat dan
efisien, adalah media massa.
Tetapi
jika komunikasi dimaksudkan untuk mengubah sikap atau perilaku penerima secara
personal, maka saluran komunikasi yang paling tepat adalah saluran interpersonal.
3.
Jangka waktu
Proses
keputusan inovasi, dari mulai seseorang mengetahui sampai memutuskan untuk
menerima atau menolaknya, dan pengukuhan terhadap keputusan itu sangat
berkaitan dengan dimensi waktu. Paling tidak dimensi waktu terlihat dalam:
a.
Proses
pengambilan keputusan inovasi,
b.
Keinovatifan
seseorang: relatif lebih awal atau lebih lambat dalammenerima inovasi, dan
c.
Kecepatan pengadopsian inovasi dalam sistem
sosial.
4.
Sistem sosial
kumpulan
unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk
memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama.
Lebih
lanjut teori yang dikemukakan Rogers (1995) memiliki relevansi dan argumen yang
cukup signifikan dalam proses pengambilan keputusan inovasi. Teori tersebut
antara lain menggambarkan tentang variabel yang berpengaruh terhadap tingkat
adopsi suatu inovasi serta tahapan dari proses pengambilan keputusan inovasi.
2.3 Proses Difusi Inovasi
Proses
difusi inovasi mempunyai beberapa tahap, antara lain:
1. Tahap
Pengetahuan (Knowledge)
Ada beberapa sumber yang menyebutkan tahap pengetahuan
sebagai tahap “Awareness”. Tahap ini
merupakan tahap penyebaran informasi tentang inovasi baru, dan saluran yang
paling efektif untuk digunakan adalah saluran media massa. Dalam tahap
ini kesadaran individu akan mencari
atau membentuk pengertian inovasi dan tentang bagaimana inovasi tersebut
berfungsi. Rogers mengatakan ada tiga macam pengetahuan yang dicari masyarakat
dalam tahapan ini, yakni:
· Kesadaran
bahwa inovasi itu ada
· Pengetahuan
akan penggunaan inovasi tersebut
· Pengetahuan
yang mendasari bagaimana fungsi inovasi tersebut bekerja
2. Tahap
Persuasi (Persuasion)
Dalam tahapan ini individu membentuk sikap atau
memiliki sifat yang menyetujui atau tidak menyetujui inovasi tersebut. Dalam
tahap persuasi ini, individu akan mencari tahu lebih dalam informasi tentang
inovasi baru tersebut dan keuntungan menggunakan informasi tersebut. Yang
membuat tahapan ini berbeda dengan tahapa pengetahuan adalah pada tahap
pengetahuan yang berlangsung adalah proses memengaruhi kognitif, sedangkan pada
tahap persuasi, aktifitas mental yang terjadi alah memengaruhi afektif. Pada
tahapan ini seorang calon adopter akan lebih terlibat secara
psikologis dengan inovasi. Kepribadian dan norma-norma sosial yang dimiliki
calon adopter ini akan menentukan bagaimana ia mencari
informasi, bentuk pesan yang bagaimana yang akan ia terima dan yang tidak, dan
bagaimana cara ia menafsirkan makna pesan yang ia terima berkenaan dengan
informasi tersebut. Sehingga pada tahapan ini seorang calon adopterakan
membentuk persepsi umumnya tentang inovasi tersebut. Beberapa ciri-ciri inovasi
yang biasanya dicari pada tahapan ini adalah karekateristik inovasi yakni relative
advantage, compatibility, complexity, trialability,
danobservability.
3. Tahap
Pengambilan Keputusan (Decision)
Di tahapan ini individu terlibat dalam aktivitas yang
membawa pada suatu pilihan untuk mengadopsi inovasi tersebut atau tidak sama
sekali. Adopsi adalah keputusan untuk menggunakan sepenuhnya ide baru sebagai cara
tindak yang paling baik. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi, yakni:
· Praktik
sebelumnya
· Perasaan
akan kebutuhan
· Keinovatifan
· Norma
dalam sistem sosial
Proses keputusan inovasi memiliki beberapa tipe yakni:
a)
Otoritas adalah keputusan yang dipaksakan kepada
seseorang oleh individu yang berada dalam posisi atasan
b)
Individual adalah keputusan dimana individu yang
bersangkutan mengambil peranan dalam pembuatannya. Keputusan individual terbagi
menjadi dua macam, yakni:
a. Keputusan opsional adalah
keputusan yang dibuat oleh seseorang, terlepas dari keputusan yang dibuat oleh
anggota sistem.
b. Keputusan kolektif adalah
keputusan dibuat oleh individu melalui konsesnsus dari sebuah sistem sosial
c) Kontingen
adalah keputusan untuk menerima atau menolak inovasi setelah ada keputusan yang
mendahuluinya.
Konsekuensi adalah perubahan yang terjadi pada
individu atau suatu sistem sosial sebagai akibat dari adopsi atau penolakan
terhadap inovasi . Ada tiga macam konsekuensi setelah diambilnya sebuah
keputusan, yakni:
· Konsekuensi
Dikehendaki VS Konsekuensi Tidak Dikehendaki
Konsekuensi dikehendaki dan tidak dikehendaki
bergantung kepada dampak-dampak inovasi dalam sistem sosial berfungsi atau
tidak berfungsi. Dalam kasus ini, sebuah inovasi bisa saja dikatakan berfungsi
dalam sebuah sistem sosial tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya
inovasi tersebut tidak berfungsi bagi beberapa orang di dalm sistem sosial
tersebut Sebut saja revolusi industri di Inggris, akibat dari revolusi tersebut
sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemilik modal tetapi tidak sesuai denganapa
yang dikehendaki oleh tenaga kerja yang pada akhirnya kehilangan pekerjaaan dan
menjadi pengangguran.
· Konsekuensi
Langsung VS Koneskuensi Tidak Langsung
Konsekuensi yang diterima bisa disebut konsekuensi
langsung atau tidak langsung bergantung kepada apakah perubahan-perubahan pada
individu atau sistem sosial terjadi dalam respons langsung terhadap inovasi atau
sebagai hasil dari urutan kedua dari konsekuensi. Terkadang efek atau hasil
dari inovasi tidak berupa pengaruh langsung
· Konsekuensi
Yang Diantisipasi VS Konsekuensi Yang Tidak Diantisipasi
Tergantung kepada apakah perubahan-perubahan diketahui
atau tidak oleh para anggota sistem sosial tersebut. Contohnya pada penggunaan
internet sebagai media massa baru di Indonesia khususnya dikalangan remaja.
Umumnya, internet digunakan untuk mendapatkan informasi yang terbaru dari
segala penjuru dunia, inilah yang disebut konsekuensi yang diantisipasi. Tetapi
tanpa disadari penggunaan internet bisa disalahgunakan, misalnya untuk
mengakses hal-hal yang berbau pornografi hal inilah yang disebut konsekuensi
yang tidak diantisipasi. Remaja menjadi mudah mendapatkan video atau
gambar-gambar yang tidak pantas.
4. Tahap
Pelaksanaan (Implementation)
Tahapan ini hanya akan ada jika pada tahap sebelumnya,
individu atau partisipan memilih untuk mengadopsi inovasi baru tersebut. Dalam
tahap ini, individu akan menggunakan inovasi tersebut. Jika ditahapan
sebelumnya proses yang terjadi lebih kepada mental exercise yakni
berpikir dan memutuskan, dalam tahap pelaksanaan ini proses yang terjadi
lebih ke arah perubahan tingkah laku sebagai bentuk dari penggunaan ide baru
tersebut.
5. Tahap
Konfirmasi (Confirmation)
Tahap terakhir ini adalah tahapan dimana individu akan
mengevaluasi dan memutuskan untuk terus menggunakan inovasi baru tersebut atau
menyudahinya. Selain itu, individu akan mencari penguatan atas keputusan yang
telah ia ambil sebelumnya. Apabila, individu tersebut menghentikan penggunaan
inovasi tersebut hal tersebut dikarenakan oleh hal yang disebutdisenchantment discontinuance danatau replacement discontinuance.
Disenchantment discontinuance disebabkan oleh
ketidakpuasan individu terhadap inovasi tersebut sedangkan replacement discontinuancedisebabkan
oleh adanya inovasi lain yang lebih baik.
Menurut
Ardianto
dkk (2009), faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tahapan difusi inovasi
tersebut mencakup:
1.
Atribut
inovasi (perceived atrribute of innovasion),
a.
Keuntungan relative (relative advantage),
Adalah inovasi dapat diterima oleh masyarakat apabila
menguntungkan secara ekonomis atau dapat meningkatkan prestise/status social serta
kenyamanan dan kepuasan, juga merupakan unsur yang penting.
b.
Kesesuaian (compatibility),
Adalah suatu inovasi dirasakan ajeg atau konsisten
dengan nilai – nilai yang berlaku, pengalaman yang telah dimiliki, kesesuaian
dengan tradisi dan kebutuhan mereka yang melakukan adopsi.
c.
Kerumitan (complexity),
Adalah mutu derajat dimana inovasi dirasakan sukar
untuk dimengerti dan dipergunakan. Selanjutnya Mulyana S (2009) mengatakan
bahwa kerumitan dari inovasi, apabila dilaksanakan oleh sasaran. Kompleksitas
inovasi yang diterima oleh anggota dalam sistem sosial sangat berpengaruh.
d.
Kemungkinan di coba (trialability),
adalah mutu derajat dimana inovasi di
eksperimentasikan pada landasan yang terbatas.Mulyana S. (2009) mengatakan
bahwa, dapat diujicobakan, setiap inovasi yang dibawa dapat diujicobakan dulu
oleh sasaran sehingga dapat dilanjutkan/tidak, tergantung dari persepsi sasaran
terhadap inovasi tersebut.
e.
Kemungkinan diamati (observability),
adalahhasil inovasi dapat disaksikan oleh orang lain
atau dapat dilihat/tampak, dapat dikomunikasikan dan dapat dideskripsikan.
2.4 Kategori Adopter
Anggota sistem sosial
dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok adopter (penerima inovasi) sesuai
dengan tingkat keinovatifannya (kecepatan dalam menerima inovasi). Salah satu
pengelompokan yang bisa dijadikan rujuakan adalah pengelompokan berdasarkan
kurva adopsi, yang telah duji oleh Rogers (1961).
Gambaran tentang
pengelompokan adopter dapat dilihat sebagai berikut:
1. Innovators: Sekitar 2,5% individu yang pertama kali
mengadopsi inovasi. Cirinya: petualang, berani mengambil resiko, mobile,
cerdas, kemampuan ekonomi tinggi
2. Early Adopters (Perintis/Pelopor): 13,5% yang menjadi
para perintis dalam penerimaan inovasi. Cirinya: para teladan (pemuka
pendapat), orang yang dihormati, akses di dalam tinggi
3. Early Majority (Pengikut Dini): 34% yang menjadi pera
pengikut awal. Cirinya: penuh pertimbangan, interaksi internal tinggi.
4. Late Majority (Pengikut Akhir): 34% yang menjadi
pengikut akhir dalam penerimaan inovasi. Cirinya: skeptis, menerima karena
pertimbangan ekonomi atau tekanan social, terlalu hati-hati.
5. Laggards (Kelompok Kolot/Tradisional): 16% terakhir
adalah kaum kolot/tradisional. Cirinya: tradisional, terisolasi, wawasan
terbatas, bukan opinion leaders,sumberdaya terbatas.
Prinsip
homophily merupakan salah satu prinsip berkomunikasi dimana komunikator dan
komunikan atau pembicara dan khalayak atau lawan bicara merasa berada dalam
persamaan. Sedangkan heterophily sebaliknya yaitu ketika pembicara dan khalayak
atau lawan bicara berada dalam suasana perbedaan.
ilustrasi:
Ketika melakukan kegiatan
presentasi proposal kerjasama dengan pemimpin perusahaan yang berasal dari
Yogyakarta dan terkenal sangat santun sesuai dengan budayanya, maka Anton
melakukan presentasi dengan santun, tapi jelas dan pasti. Hal ini membuat
pemimpin perusahaan tersebut sangat terkesan dan menerima proposal yang
dipresentasikan. Hal yang berbeda dengan presentasi yang dilakukan dalam
prinsip heterophily seperti yang dialaminya tahun lalu, ketika itu ia
mempresentasikan proposalnya dengan lugas, banyak menggunakan bahasa Inggris
dan banyak mengambil contoh kasus di Amerika. Presentasinya tidak begitu
disukai dan proposalnya tidak begitu disukai dan proposalnya ditolak mentah –
mentah.
Peranan dimensi waktu merupakan unsur penting dalam
proses difusi, berpengaruh dalam hal:
1. Proses keputusan
inovasi. Proses keputusan inovasi adalah tahapan proses sejak seseorang
menerima informasi pertama sampai ia menerima atau menolak inovasi.
2. Keinovativan individu
atau unit adopsi lain. Keinovatipan individu yaitu kategori relatif tife
penerima inovasi.
3.
Rata-rata adopsi dalam suatu sistem. Rata-rata adopsi
dalam suatu sistem yaitu seberapa banyak jumlah anggota suatu sistem mengadopsi
suatu inovasi dalam periode waktu tertentu.
2.7 Lima Kategori Penerima inovasi
Anggota sistem sosial dapat dibagi ke dalam
kelompok-kelompok penerima inovasi sesuai dengan tingkat keinovatifannya
(kecepatan dalam menerima inovasi). Gambaran tentang pengelompokan penerima
inovasi dapat dilihat sebagai berikut:
1. Innovators: Sekitar 2,5% individu yang pertama kali mengadopsi
inovasi. Cirinya: petualang, berani mengambil resiko, aktif, cerdas, kemampuan
ekonomi tinggi.
2.
Early Adopters (Perintis/Pelopor):
13,5% yang menjadi para perintis dalam penerimaan inovasi. Cirinya: para
teladan (pemuka pendapat), orang yang dihormati.
3.
Early Majority (Pengikut Dini): 34%
yang menjadi pera pengikut awal. Cirinya: penuh pertimbangan, interaksi
internal tinggi.
4.
Late Majority (Pengikut Akhir): 34%
yang menjadi pengikut akhir dalam penerimaan inovasi. Cirinya: skeptis,
menerima karena pertimbangan ekonomi atau tekanan social, terlalu hati-hati.
5.
Laggards (Kelompok
Kolot/Tradisional): 16% terakhir adalah kaum kolot/tradisional. Cirinya:
tradisional, terisolasi, wawasan terbatas, bukan opinion leaders,sumberdaya terbatas.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Inovasi
merupakan sebuah ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati
sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang maupun kelompok masyarakat. Inovasi
memberi sebuah solusi atau pengetahuan baru bagi individu atau masyarakat yang
mampu menerima dan memanfaatkan dengan baik informasi (inovasi) yang sampai
padanya.
Diseminasi
(Bahasa Inggris: Dissemination) adalah suatu kegiatan yang ditujukan kepada
kelompok target atau individu agar mereka memperoleh informasi, timbul
kesadaran, menerima, dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut.
Diseminasi
merupakan tindak inovasi yang disusun dan disebarkannya berdasarkan sebuah
perencanaan yang matang dengan pandangan jauh ke depan baik melalui diskusi
atau forum lainnnya yang sengaja diprogramkan, sehingga terdapat kesepakatan
untuk melaksanakan inovasi.
Proses
difusi inovasi mempunyai beberapa tahap, antara lain:
1. Tahap Pengetahuan (Knowledge)
2. Tahap Persuasi (Persuasion)
3. Tahap Pengambilan Keputusan
(Decision)
4. Tahap Pelaksanaan
(Implementation)
5. Tahap Konfirmasi (Confirmation)
Rogers
mengemukakan ada 3 elemen pokok difusi
inovasi, yaitu: (1) inovasi, (2) komunikasi dengan saliran tertentu dan (3) waktu. (4) sistem
sosial.
Anggota sistem sosial
dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok adopter (penerima inovasi) sesuai
dengan tingkat keinovatifannya (kecepatan dalam menerima inovasi).
Prinsip
homophily merupakan salah satu prinsip berkomunikasi dimana komunikator dan
komunikan atau pembicara dan khalayak atau lawan bicara merasa berada dalam
persamaan. Sedangkan heterophily sebaliknya yaitu ketika pembicara dan khalayak
atau lawan bicara berada dalam suasana perbedaan.
Anggota sistem sosial dapat dibagi ke dalam
kelompok-kelompok penerima inovasi sesuai dengan tingkat keinovatifannya
(kecepatan dalam menerima inovasi). Gambaran tentang pengelompokan penerima
inovasi, yaitu: Innovators, Early Adopters, Early
Majority, Late Majority Laggards.
3.2
saran
1.
diharapkan
mahasiswa dapat memahami divusi dan
diseminasi inovasi dan bisa menerapkan di kehidupan mahasiswa itu sendiri.
2.
Diharapkan
mahasiswa bisa menumbuhkan invosai yang bisa berpengaruh terhadap lingkungan
sosial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar