Minggu, 29 November 2015

makalah difusi inovasi dan desiminasi



Makalah
DIVUSI INOVASI DAN DESIMINASI


OLEH :
Kelompok 1
Whencing Ali
Ilham Djasri
Wahyunita Dama
Riski Madjid
Eva Indriani




UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
2015


KATA PENGANTAR



Segala puji bagi ALLAH SWT, pencipta alam semesta yang masih member kesempatan dan kekuatan sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah ini denan semaksimal mngkin. Salawar dan salam selalu tercurahkan atas junjungan Nabi Muhamad SAW yang menjadi teladah dalam kehidupan ini.
Tugas dalam hal ini makalah yang berjudul “Divusi Inovasi Dan Desiminasi” dapat disusun karena atas bimbingan, arahan dan masukan dari semua pihak terutama dosen pembimbing mata kuliah ini, sehingga tak lupa kami ucapkan banyak terima kasih.
Tiada gading yang tak retak, tiada manusia yang luput dari kekhilafan. Kami menyadari bahwa tugas dalam hal ini makalah masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan tidak mengurangi rasa hormat penulis, maka penulis ingin membutukan saran, kritik dan masukan dari para pembaca dan pendengar yang sifatnya membangun agar pembuatan makalah ini selanjutnya mampu mengurangi kesalahan-kesalahan yang penulis buat sehingga menjadikan motivasi dalam pembuatan makalah ini.
Wassalamu Alaikum Wr.Wb.


Gorontalo, 15 Oktober 2015


Kelompok 1









DAFTAR ISI

 KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
Bab I  :  PENDAHULUAN 1
1.1  Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan 2

BAB II  :  PEMBAHASAN 3
2.1 Divusi Inovasi Dan Desiminasi 3
2.3 Proses Difusi Inovasi 5
2.4 Kategori Adopter 8
2.6 Peranan dimensi waktu dalam Proses Difusi 10

BAB III  :  PENUTUP 11
3.1 Kesimpulan 11
3.1 Saran 12
Daftar pustaka 13

 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Munculnya Teori Difusi Inovasi dimulai pada awal abad ke-20, tepatnya tahun 1903, ketika seorang sosiolog Perancis, Gabriel Tarde, memperkenalkan Kurva Difusi berbentuk S (S-shaped Diffusion Curve). Kurva ini pada dasarnya menggambarkan bagaimana suatu inovasi diadopsi seseorang atau sekolompok orang dilihat dari dimensi waktu. Pada kurva ini ada dua sumbu dimana sumbu yang satu menggambarkan tingkat adopsi dan sumbu yang lainnya menggambarkan dimensi waktu.
Pemikiran Tarde menjadi penting karena secara sederhana bisa menggambarkan kecenderungan yang terkait dengan proses difusi inovasi. Rogers (1983) mengatakan, Tarde’s S-shaped diffusion curve is of current importance because “most innovations have an S-shaped rate of adoption”. Dan sejak saat itu tingkat adopsi atau tingkat difusi menjadi fokus kajian penting dalam penelitian-penelitian sosiologi.
Pada tahun 1940, dua orang sosiolog, Boyce Ryan dan Neal Gross, mempublikasikan hasil penelitian difusi tentang jagung hibrida pada para petani di Iowa, Amerika Serikat. Hasil penelitian ini memperbarui sekaligus menegaskan tentang difusi inovasimodel kurva S. Salah satu kesimpulan penelitian Ryan dan Gross menyatakan bahwa “The rate of adoption of the agricultural innovation followed an S-shaped normal curve when plotted on a cumulative basis over time.
”Perkembangan berikutnya dari teori Difusi Inovasi terjadi pada tahun 1960, di mana studi atau penelitian difusi mulai dikaitkan dengan berbagai topik yang lebih kontemporer, seperti dengan bidang pemasaran, budaya, dan sebagainya. Di sinilah muncul tokoh-tokoh teori Difusi Inovasi seperti Everett M. Rogers dengan karya besarnya Diffusion of Innovation (1961); F. Floyd  Shoemaker yang bersama Rogers menulis Communication of Innovation: A Cross Cultural Approach (1971) sampai Lawrence A. Brown yang menulis Innovation Diffusion: A New Perpective (1981).
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian divusi dan diseminasi inovasi
2.      Apa saja elemen-elemen divusi inovasi
3.      Bagaimana proses divusi inovasi
4.      Apa saja kategori adopter
5.      Apa Prinsip Homophily dan Heterophily
6.      Bagaimana Peranan dimensi waktu dalam Proses Difusi
7.      Apa Lima Kategori Penerima inovasi
1.3  tujuan
1.      untuk mengetahui divusi dan diseminasi inovasi
2.      untuk mengetahui elemen-elemen divusi inovasi
3.      untuk mengetahui proses divusi inovasi
4.      untuk mengetahui kategori adopter
5.      untuk mengetahui Prinsip Homophily dan Heterophily
6.      untuk mengetahui Peranan dimensi waktu dalam Proses Difusi
7.      untuk mengetahui Lima Kategori Penerima inovasi




BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Divusi Inovasi Dan Desiminasi
a. Pengertian  Divusi Inovasi
Inovasi merupakan sebuah ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang maupun kelompok masyarakat. Inovasi memberi sebuah solusi atau pengetahuan baru bagi individu atau masyarakat yang mampu menerima dan memanfaatkan dengan baik informasi (inovasi) yang sampai padanya.
Komunikasi dengan isi pesan berupa sebuah inovasi disebut sebagai proses difusi, yaitu proses komunikasi inovasi antar warga masyarakat (anggota system sosial), dengan menggunakan saluran tertentu dan dalam waktu tertentu. Disini, terjadi proses saling tukar menukar informasi (hubungan timbale balik), antar beberapa individu baik secara memusat (konvergen) maupun memancar (divergen), yang berlangsung secara spontan. Dengan adanya komunikasi ini akan terjadi kesamaan pendapat antar warga masyarakat tentang inovasi. Maka, difusi juga dapat merupakan salah satu tipe komunikasi, yaitu komunikasi yang mempunyai ciri pokok berupa pesan yang dikomunikasikan adalah hal yang baru (inovasi).
Seorang pakar difusi yaitu Roger (1995) mengatakan bahwa difusi adalah proses yang terjadi pada suatu waktu dan memiliki lima tahapan yaitu tahap pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Salah satu tahapan penting dalam proses keputusan inovasi adalah tahapan persuasi (pembentukan sikap), karena terjadi proses seleksi untuk berkenan atau tidak berkenan terhadap inovasi. Sehingga muncul suatu kesiapan (positif atau negatif) untuk berperilaku (M. Anwas, 2006:4).
Menurut Roger (Ibrahim, 1988:59), ia membedakan antara sistem difusi sentralisasi dan system difusi desentralisasi, yaitu :
1.      System difusi sentralisasi, penentuan tentang berbagai hal seperti : kapan dimulainya difusi inovasi, dengan saluran apa, siapa yang akan menilai hasilnya, dsb. Dilakukan oleh sekelompok kecil orang tertentu atau pimpinan agen pembaharu.
2.      Dalam system difusi desentralisasi, penentuan tersebut dilakukan oleh warga masyarakat bekerja sama dengan beberapa orangyang telah menerima inovasi. Dan dalam pelaksanaan system difusi desentralisasi yang ekstrim tidak perlu agen pembaharu, warga masyarakat itu sendiri yang bertanggungjawab atas terjadinya difusi inovasi.  
b. Pengertian Diseminasi Inovasi
Diseminasi (Bahasa Inggris: Dissemination) adalah suatu kegiatan yang ditujukan kepada kelompok target atau individu agar mereka memperoleh informasi, timbul kesadaran, menerima, dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut.
Diseminasi merupakan tindak inovasi yang disusun dan disebarkannya berdasarkan sebuah perencanaan yang matang dengan pandangan jauh ke depan baik melalui diskusi atau forum lainnnya yang sengaja diprogramkan, sehingga terdapat kesepakatan untuk melaksanakan inovasi.
Diseminasi adalah proses penyebaran inovasi yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola. Hal ini berbeda dengan difusi yang merupakan alur komunikasi spontan.  Sehingga terjadi saling tukar informasi dan akhirnya terjadi kesamaan pendapat antara tentang inovasi tersebut.
2.2 Elemen Difusi Inovasi
Sesuai dengan pemikiran Rogers, dalam proses difusi inovasi terdapat 4 (empat) elemen pokok, yaitu:
1.      Inovasi
Gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Dalam hal ini, kebaruan inovasi diukur secara subjektif menurut pandangan individu yang menerimanya. Jika suatu ide dianggap baru oleh seseorang maka ia adalah inovasi untuk orang itu. Konsep ”baru” dalam ide yang inovatif tidak harus baru sama sekali.
2.      Saluran komunikasi
”Alat” untuk menyampaikan pesan-pesan inovasi dari sumber kepada penerima. Dalam memilih saluran komunikasi, sumber, paling tidak perlu memperhatikan:
a.       Tujuan diadakannya komunikasi
b.      Karakteristik penerima.
Jika komunikasi dimaksudkan untuk memperkenalkan suatu inovasi kepada khalayak yang banyak dan tersebar luas, maka saluran komunikasi yang lebih tepat, cepat dan efisien, adalah media massa.
Tetapi jika komunikasi dimaksudkan untuk mengubah sikap atau perilaku penerima secara personal, maka saluran komunikasi yang paling tepat adalah saluran interpersonal.
3.      Jangka waktu
Proses keputusan inovasi, dari mulai seseorang mengetahui sampai memutuskan untuk menerima atau menolaknya, dan pengukuhan terhadap keputusan itu sangat berkaitan dengan dimensi waktu. Paling tidak dimensi waktu terlihat dalam:
a.       Proses pengambilan keputusan inovasi,
b.      Keinovatifan seseorang: relatif lebih awal atau lebih lambat dalammenerima inovasi, dan
c.        Kecepatan pengadopsian inovasi dalam sistem sosial.




4.      Sistem sosial
kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama.   
Lebih lanjut teori yang dikemukakan Rogers (1995) memiliki relevansi dan argumen yang cukup signifikan dalam proses pengambilan keputusan inovasi. Teori tersebut antara lain menggambarkan tentang variabel yang berpengaruh terhadap tingkat adopsi suatu inovasi serta tahapan dari proses pengambilan keputusan inovasi.

2.3 Proses Difusi Inovasi
Proses difusi inovasi mempunyai beberapa tahap, antara lain:
1.    Tahap Pengetahuan (Knowledge)
Ada beberapa sumber yang menyebutkan tahap pengetahuan sebagai tahap “Awareness”. Tahap ini merupakan tahap penyebaran informasi tentang inovasi baru, dan saluran yang paling efektif untuk digunakan adalah saluran media massa. Dalam tahap ini kesadaran individu akan mencari atau membentuk pengertian inovasi dan tentang bagaimana inovasi tersebut berfungsi. Rogers mengatakan ada tiga macam pengetahuan yang dicari masyarakat dalam tahapan ini, yakni:
·         Kesadaran bahwa inovasi itu ada
·         Pengetahuan akan penggunaan inovasi tersebut
·         Pengetahuan yang mendasari bagaimana fungsi inovasi tersebut bekerja
2.    Tahap Persuasi (Persuasion)
Dalam tahapan ini individu membentuk sikap atau memiliki sifat yang menyetujui atau tidak menyetujui inovasi tersebut. Dalam tahap persuasi ini, individu akan mencari tahu lebih dalam informasi tentang inovasi baru tersebut dan keuntungan menggunakan informasi tersebut. Yang membuat tahapan ini berbeda dengan tahapa pengetahuan adalah pada tahap pengetahuan yang berlangsung adalah proses memengaruhi kognitif, sedangkan pada tahap persuasi, aktifitas mental yang terjadi alah memengaruhi afektif. Pada tahapan ini seorang calon adopter akan lebih terlibat secara psikologis dengan inovasi. Kepribadian dan norma-norma sosial yang dimiliki calon adopter ini akan menentukan bagaimana ia mencari informasi, bentuk pesan yang bagaimana yang akan ia terima dan yang tidak, dan bagaimana cara ia menafsirkan makna pesan yang ia terima berkenaan dengan informasi tersebut. Sehingga pada tahapan ini seorang calon adopterakan membentuk persepsi umumnya tentang inovasi tersebut. Beberapa ciri-ciri inovasi yang biasanya dicari pada tahapan ini adalah karekateristik inovasi yakni relative advantagecompatibilitycomplexitytrialability, danobservability.
3.    Tahap Pengambilan Keputusan (Decision)
Di tahapan ini individu terlibat dalam aktivitas yang membawa pada suatu pilihan untuk mengadopsi inovasi tersebut atau tidak sama sekali. Adopsi adalah keputusan untuk menggunakan sepenuhnya ide baru sebagai cara tindak yang paling baik. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi, yakni:
·         Praktik sebelumnya
·         Perasaan akan kebutuhan
·         Keinovatifan
·         Norma dalam sistem sosial
Proses keputusan inovasi memiliki beberapa tipe yakni:
a)        Otoritas adalah keputusan yang dipaksakan kepada seseorang oleh individu yang berada dalam posisi atasan
b)        Individual adalah keputusan dimana individu yang bersangkutan mengambil peranan dalam pembuatannya. Keputusan individual terbagi menjadi dua macam, yakni:
a.    Keputusan opsional adalah keputusan yang dibuat oleh seseorang, terlepas dari keputusan yang dibuat oleh anggota sistem.
b.    Keputusan kolektif adalah keputusan dibuat oleh individu melalui konsesnsus dari sebuah sistem sosial
c)    Kontingen adalah keputusan untuk menerima atau menolak inovasi setelah ada keputusan yang mendahuluinya.
Konsekuensi adalah perubahan yang terjadi pada individu atau suatu sistem sosial sebagai akibat dari adopsi atau penolakan terhadap inovasi . Ada tiga macam konsekuensi setelah diambilnya sebuah keputusan, yakni:
·         Konsekuensi Dikehendaki VS Konsekuensi Tidak Dikehendaki
Konsekuensi dikehendaki dan tidak dikehendaki bergantung kepada dampak-dampak inovasi dalam sistem sosial berfungsi atau tidak berfungsi. Dalam kasus ini, sebuah inovasi bisa saja dikatakan berfungsi dalam sebuah sistem sosial tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa sebenarnya inovasi tersebut tidak berfungsi bagi beberapa orang di dalm sistem sosial tersebut Sebut saja revolusi industri di Inggris, akibat dari revolusi tersebut sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemilik modal tetapi tidak sesuai denganapa yang dikehendaki oleh tenaga kerja yang pada akhirnya kehilangan pekerjaaan dan menjadi pengangguran.
·         Konsekuensi Langsung VS Koneskuensi Tidak Langsung
Konsekuensi yang diterima bisa disebut konsekuensi langsung atau tidak langsung bergantung kepada apakah perubahan-perubahan pada individu atau sistem sosial terjadi dalam respons langsung terhadap inovasi atau sebagai hasil dari urutan kedua dari konsekuensi. Terkadang efek atau hasil dari inovasi tidak berupa pengaruh langsung
·         Konsekuensi Yang Diantisipasi VS Konsekuensi Yang Tidak Diantisipasi
Tergantung kepada apakah perubahan-perubahan diketahui atau tidak oleh para anggota sistem sosial tersebut. Contohnya pada penggunaan internet sebagai media massa baru di Indonesia khususnya dikalangan remaja. Umumnya, internet digunakan untuk mendapatkan informasi yang terbaru dari segala penjuru dunia, inilah yang disebut konsekuensi yang diantisipasi. Tetapi tanpa disadari penggunaan internet bisa disalahgunakan, misalnya untuk mengakses hal-hal yang berbau pornografi hal inilah yang disebut konsekuensi yang tidak diantisipasi. Remaja menjadi mudah mendapatkan video atau gambar-gambar yang tidak pantas.
4.    Tahap Pelaksanaan (Implementation)
Tahapan ini hanya akan ada jika pada tahap sebelumnya, individu atau partisipan memilih untuk mengadopsi inovasi baru tersebut. Dalam tahap ini, individu akan menggunakan inovasi tersebut. Jika ditahapan sebelumnya proses yang terjadi lebih kepada mental exercise yakni berpikir dan memutuskan, dalam tahap pelaksanaan ini  proses yang terjadi lebih ke arah perubahan tingkah laku sebagai bentuk dari penggunaan ide baru tersebut.
5.    Tahap Konfirmasi (Confirmation)
Tahap terakhir ini adalah tahapan dimana individu akan mengevaluasi dan memutuskan untuk terus menggunakan inovasi baru tersebut atau menyudahinya. Selain itu, individu akan mencari penguatan atas keputusan yang telah ia ambil sebelumnya. Apabila, individu tersebut menghentikan penggunaan inovasi tersebut hal tersebut dikarenakan oleh hal yang disebutdisenchantment discontinuance danatau replacement discontinuance. Disenchantment discontinuance disebabkan oleh ketidakpuasan individu terhadap inovasi tersebut sedangkan replacement discontinuancedisebabkan oleh adanya inovasi lain yang lebih baik.
Menurut Ardianto dkk (2009), faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tahapan difusi inovasi tersebut mencakup:
1.      Atribut inovasi (perceived atrribute of innovasion),
a.       Keuntungan relative (relative advantage),
Adalah inovasi dapat diterima oleh masyarakat apabila menguntungkan secara ekonomis atau dapat meningkatkan prestise/status social serta kenyamanan dan kepuasan, juga merupakan unsur yang penting.

b.      Kesesuaian (compatibility),
Adalah suatu inovasi dirasakan ajeg atau konsisten dengan nilai – nilai yang berlaku, pengalaman yang telah dimiliki, kesesuaian dengan tradisi dan kebutuhan mereka yang melakukan adopsi.
c.       Kerumitan (complexity),
Adalah mutu derajat dimana inovasi dirasakan sukar untuk dimengerti dan dipergunakan. Selanjutnya Mulyana S (2009) mengatakan bahwa kerumitan dari inovasi, apabila dilaksanakan oleh sasaran. Kompleksitas inovasi yang diterima oleh anggota dalam sistem sosial sangat berpengaruh.
d.      Kemungkinan di coba (trialability),
adalah mutu derajat dimana inovasi di eksperimentasikan pada landasan yang terbatas.Mulyana S. (2009) mengatakan bahwa, dapat diujicobakan, setiap inovasi yang dibawa dapat diujicobakan dulu oleh sasaran sehingga dapat dilanjutkan/tidak, tergantung dari persepsi sasaran terhadap inovasi tersebut.
e.       Kemungkinan diamati (observability),
adalahhasil inovasi dapat disaksikan oleh orang lain atau dapat dilihat/tampak, dapat dikomunikasikan dan dapat dideskripsikan.

2.4  Kategori Adopter
Anggota sistem sosial dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok adopter (penerima inovasi) sesuai dengan tingkat keinovatifannya (kecepatan dalam menerima inovasi). Salah satu pengelompokan yang bisa dijadikan rujuakan adalah pengelompokan berdasarkan kurva adopsi, yang telah duji oleh Rogers (1961).  
Gambaran tentang pengelompokan adopter dapat dilihat sebagai berikut:
1.      Innovators: Sekitar 2,5% individu yang pertama kali mengadopsi inovasi. Cirinya: petualang, berani mengambil resiko, mobile, cerdas, kemampuan ekonomi tinggi
2.      Early Adopters (Perintis/Pelopor): 13,5% yang menjadi para perintis dalam penerimaan inovasi. Cirinya: para teladan (pemuka pendapat), orang yang dihormati, akses di dalam tinggi
3.      Early Majority (Pengikut Dini): 34% yang menjadi pera pengikut awal. Cirinya: penuh pertimbangan, interaksi internal tinggi.
4.      Late Majority (Pengikut Akhir): 34% yang menjadi pengikut akhir dalam penerimaan inovasi. Cirinya: skeptis, menerima karena pertimbangan ekonomi atau tekanan social, terlalu hati-hati.
5.      Laggards (Kelompok Kolot/Tradisional): 16% terakhir adalah kaum kolot/tradisional. Cirinya: tradisional, terisolasi, wawasan terbatas, bukan opinion leaders,sumberdaya terbatas.

Prinsip homophily merupakan salah satu prinsip berkomunikasi dimana komunikator dan komunikan atau pembicara dan khalayak atau lawan bicara merasa berada dalam persamaan. Sedangkan heterophily sebaliknya yaitu ketika pembicara dan khalayak atau lawan bicara berada dalam suasana perbedaan.
ilustrasi:
Ketika melakukan kegiatan presentasi proposal kerjasama dengan pemimpin perusahaan yang berasal dari Yogyakarta dan terkenal sangat santun sesuai dengan budayanya, maka Anton melakukan presentasi dengan santun, tapi jelas dan pasti. Hal ini membuat pemimpin perusahaan tersebut sangat terkesan dan menerima proposal yang dipresentasikan. Hal yang berbeda dengan presentasi yang dilakukan dalam prinsip heterophily seperti yang dialaminya tahun lalu, ketika itu ia mempresentasikan proposalnya dengan lugas, banyak menggunakan bahasa Inggris dan banyak mengambil contoh kasus di Amerika. Presentasinya tidak begitu disukai dan proposalnya tidak begitu disukai dan proposalnya ditolak mentah – mentah.

Peranan dimensi waktu merupakan unsur penting dalam proses difusi, berpengaruh dalam hal:
1.      Proses keputusan inovasi. Proses keputusan inovasi adalah tahapan proses sejak seseorang menerima informasi pertama sampai ia menerima atau menolak inovasi.
2.      Keinovativan individu atau unit adopsi lain. Keinovatipan individu yaitu kategori relatif tife penerima inovasi.
3.      Rata-rata adopsi dalam suatu sistem. Rata-rata adopsi dalam suatu sistem yaitu seberapa banyak jumlah anggota suatu sistem mengadopsi suatu inovasi dalam periode waktu tertentu.

2.7 Lima Kategori Penerima inovasi

Anggota sistem sosial dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok penerima inovasi sesuai dengan tingkat keinovatifannya (kecepatan dalam menerima inovasi). Gambaran tentang pengelompokan penerima inovasi dapat dilihat sebagai berikut:
1.      Innovators: Sekitar 2,5% individu yang pertama kali mengadopsi inovasi. Cirinya: petualang, berani mengambil resiko, aktif, cerdas, kemampuan ekonomi tinggi.
2.      Early Adopters (Perintis/Pelopor): 13,5% yang menjadi para perintis dalam penerimaan inovasi. Cirinya: para teladan (pemuka pendapat), orang yang dihormati.
3.      Early Majority (Pengikut Dini): 34% yang menjadi pera pengikut awal. Cirinya: penuh pertimbangan, interaksi internal tinggi.
4.      Late Majority (Pengikut Akhir): 34% yang menjadi pengikut akhir dalam penerimaan inovasi. Cirinya: skeptis, menerima karena pertimbangan ekonomi atau tekanan social, terlalu hati-hati.
5.      Laggards (Kelompok Kolot/Tradisional): 16% terakhir adalah kaum kolot/tradisional. Cirinya: tradisional, terisolasi, wawasan terbatas, bukan opinion leaders,sumberdaya terbatas.




BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan

Inovasi merupakan sebuah ide, barang, kejadian, metode yang dirasakan atau diamati sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang maupun kelompok masyarakat. Inovasi memberi sebuah solusi atau pengetahuan baru bagi individu atau masyarakat yang mampu menerima dan memanfaatkan dengan baik informasi (inovasi) yang sampai padanya.
Diseminasi (Bahasa Inggris: Dissemination) adalah suatu kegiatan yang ditujukan kepada kelompok target atau individu agar mereka memperoleh informasi, timbul kesadaran, menerima, dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut.
Diseminasi merupakan tindak inovasi yang disusun dan disebarkannya berdasarkan sebuah perencanaan yang matang dengan pandangan jauh ke depan baik melalui diskusi atau forum lainnnya yang sengaja diprogramkan, sehingga terdapat kesepakatan untuk melaksanakan inovasi.
Proses difusi inovasi mempunyai beberapa tahap, antara lain:
1.    Tahap Pengetahuan (Knowledge)
2.    Tahap Persuasi (Persuasion)
3.    Tahap Pengambilan Keputusan (Decision)
4.    Tahap Pelaksanaan (Implementation)
5.    Tahap Konfirmasi (Confirmation)
Rogers mengemukakan ada 3 elemen pokok difusi inovasi, yaitu: (1) inovasi, (2) komunikasi dengan saliran tertentu dan (3) waktu. (4) sistem sosial.
Anggota sistem sosial dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok adopter (penerima inovasi) sesuai dengan tingkat keinovatifannya (kecepatan dalam menerima inovasi).
Prinsip homophily merupakan salah satu prinsip berkomunikasi dimana komunikator dan komunikan atau pembicara dan khalayak atau lawan bicara merasa berada dalam persamaan. Sedangkan heterophily sebaliknya yaitu ketika pembicara dan khalayak atau lawan bicara berada dalam suasana perbedaan.
Anggota sistem sosial dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok penerima inovasi sesuai dengan tingkat keinovatifannya (kecepatan dalam menerima inovasi). Gambaran tentang pengelompokan penerima inovasi, yaitu: Innovators, Early Adopters, Early Majority, Late Majority Laggards.
3.2  saran
1.      diharapkan mahasiswa dapat memahami divusi dan diseminasi inovasi dan bisa menerapkan di kehidupan mahasiswa itu sendiri.
2.      Diharapkan mahasiswa bisa menumbuhkan invosai yang bisa berpengaruh terhadap lingkungan sosial.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar